DENPASAR – BALI,
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) parah melanda wilayah Bali dalam beberapa hari terakhir. Kelangkaan ini merata di hampir seluruh wilayah, dengan kondisi terparah melumpuhkan kawasan Denpasar, Badung, Tabanan, Jembrana, Klungkung, hingga Buleleng.
Hingga Rabu (14/10/2026), situasi di lapangan kian memprihatinkan. Ketersediaan BBM tidak hanya hilang pada jenis Pertalite (subsidi), melainkan juga BBM non-subsidi jenis Pertamax. Akibatnya, antrean kendaraan mengular ratusan meter hingga mencapai 1 kilometer di sejumlah SPBU. Warga bahkan dilaporkan telah memadati lokasi sejak pukul 05.00 WITA dan harus rela mengantre selama 2 hingga 5 jam hanya demi mendapatkan BBM. Dampak domino pun tak terhindarkan; usaha pengecer dan Pertamini di berbagai sudut kota turut gulung tikar sementara karena kehabisan stok.
Akar Masalah: Dari Cuaca Sanggaran Hingga Disparitas Harga
Berdasarkan penjelasan resmi dari Pertamina dan Dewan Energi Nasional (DEN), terdapat tiga faktor utama yang memicu krisis energi di Pulau Dewata:
• Kendala Cuaca dan Sandar Kapal Tanker: Terjadi gangguan distribusi laut di mana kapal tanker kesulitan memasang jangkar di Terminal BBM Sanggaran, Denpasar. Hal ini memicu keterlambatan fatal, di mana jadwal bongkar muat yang seharusnya berlangsung pukul 06.30 WITA mundur hingga pukul 22.00 WITA.
• Lonjakan Konsumsi & Disparitas Harga: Konsumsi harian BBM Bali melonjak drastis mencapai rata-rata 2.200 Kiloliter (KL) Pertalite per hari, yang telah menyerap 98,1% dari total kuota. Lebarnya selisih harga antara Pertalite (Rp10.000) dan Pertamax (Rp15.950) memicu migrasi besar-besaran konsumen ke BBM subsidi.
• Pemicu Panic Buying: Ketakutan masyarakat akan kelangkaan berkepanjangan memicu aksi beli secara masif (panic buying) yang semakin mempercepat kekosongan stok di SPBU.
Langkah Darurat dan Penanganan Terintegrasi
Menanggapi krisis yang terjadi, Gubernur Bali Wayan Koster mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menegaskan bahwa pasokan BBM untuk Bali sebenarnya aman hingga dua minggu ke depan. Penanganan darurat telah berjalan setelah kapal MT Klasogun berhasil sandar pada Selasa (13/10) dengan membawa muatan 19,2 juta liter Pertalite dan 3 juta liter Pertamax.
Guna mempercepat pemulihan dan mengurai antrean, langkah ekstraordinari kini diterapkan oleh Pertamina dan Pemprov Bali:
• Operasional Depo 24 Jam & Tambahan Armada: Operasional Depo BBM Sanggaran dan Manggis disiagakan 24 jam nonstop, dibantu dengan pengerahan 105 unit armada truk tangki (meningkat dari kondisi normal sebanyak 90 unit).
• SPBU Siaga 24 Jam: Sebanyak 92 SPBU di pusat krisis—terdiri dari 54 SPBU di Denpasar dan 38 SPBU di Badung—diperintahkan beroperasi 24 jam penuh mulai malam 13 Oktober.
• Pasokan Pasokan Tambahan: Tambahan pasokan sebesar 25 juta liter dijadwalkan kembali masuk ke Bali secara bertahap pada 15–17 Oktober 2026.
Target Pemulihan 1–2 Hari Ke Depan
Pemerintah Provinsi Bali menargetkan situasi antrean di seluruh SPBU akan kembali normal dalam kurun waktu 1 hingga 2 hari ke depan seiring masifnya penambahan pasokan dan jam operasional distribusi.
Masyarakat diimbau secara tegas untuk tidak melakukan panic buying atau pembelian berlebihan, agar proses pemulihan distribusi dapat berjalan optimal dan merata di seluruh pelosok Bali.
(Arie 65 – NI 86)






