Kadus Desa Sengawang Mengaku Adanya Pemotongan BLT Kasra Rp : 100 Ribu Rupiah, Per KPM

SAMBAS – KALBAR.

Kasus Desa Sengawang berikan klarifikasi terkait pemberitaan yang berkembang di media sosial, atas pemotongan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kasra kepada Keluarga penerima KPM sebesar Rp : 100 ribu rupiah. Kamis (15/01/2026)

Bacaan Lainnya

Dirinya menyebutkan, terjadinya ada bahasa pemotongan. KPM bantuan Pemerintah, khususnya yang mendapat tahap pertama delapan puluh dua orang, cuma dari depan puluh dua orang pak, ada sebagian tidak ada dirumah, atau di dusun,” Ucapnya

Lanjut, dikarenakan ada yang berangkat di Malaysia, ada ke PT seperti itu. Jadi total tahap pertama hanya yang ter setor dari RT, 6,8 juta delapan ratus per KK. Terus tahap ke dua, totalnya ada tiga belas di dusun Damar. Terus, dari tiga belas tersebut, dua orang tidak ada di tempat (lokasi). Jadi tahap kedua yang dapat yang nyetor hanya 1 (satu) juta, “jadi totalnya menjadi 7,8 juta delapan ratus ribu rupiah,” Ujar Kadus.

Lanjutnya lagi, ia mengatakan, terus kami dibelikan batu kong dua dam sebelum proyek Bapak Santoso waktu itu. Kami membeli batu kong seharga lima ratus ribu per dam untuk, terus RT melansir nya enam ratus per dam, dan sisanya kami beli lagi tiga dam,” Jelasnya

Masih Kadus, sebelum mendapatkan bantuan Sosial kami mengadakan rapat, saya kepala dusun, pk sekdes (sekertaris Desa), bapak Amil, bapak RT. Jadi kami menyimpulkan atas kesepakatan, jadi dipotong lah Rp 100 ribu dengan alasan “Penimbunan Jalan yang berlobang” dengan bantuan orang yang tidak mendapatkan bantuan tersebut,” Tuturnya

” Terkait hal tersebut, Kepala Desa tidak mengetahui sama sekali mengatur bagaimana, khususnya kami lah, bukan saya sendiri saja, dusun-dusun lain pun begitu pak.Kenapa adanya pemotongan tersebut, saya sangat setuju.Kami mengambil inisiatif, kalau berdasarkan mampu atau tidaknya pak, sebenarnya desa sengawang banyak yang mampu.

Kita kasih contoh BPK oni rumahnya dua lantai, dinding beton, lantai tegel, secara logika pak, dikatakan mampu. Jadi kami ngambil inisiatif jadi tidak mampukan semua (loloskan semua) dengan alasan, sumbangan 100 ribu untuk batu kong dan orang lain yang tidak dapat seperti itu pak. Atas hal tersebut menurut saya benar pak, karena sesuai kesepakatan kami lima dusun. Jika mereka ingin minta dikembalikan uang tersebut, tentu saya minta waktu,” tutur Kadus dengan alasannya.

Saat awak media klarifikasi kepada Kepala Desa Samuel, saat ditemui di kantornya terkait pemberitaan dan tidak merespon pesan WA WhatsApp;

” Kades Samuel menyebutkan, Kenapa saya tidak menanggapi, karena saya tidak tahu, artinya saya tidak tahu adanya pemotongan.

“Menanggapi yang disampaikan oleh Kadus tersebut, memang bantuan BLT dari pusat yang seharusnya disalurkan masyarakat yang menerima. Artinya, berdasarkan hasil rapat sehingga terjadilah pemotongan 100 ribu, untuk batu kong dan orang sakit.

Lanjutnya, Menurutnya, terkait pemotongan tersebut yang dilakukan mereka adalah Salah, berdasarkan Undang-undang “Salah” sesuai prosedur yang ada,” Tutur Kepala Desa.

Disisi lain, Rasit selaku toko masyarakat desa Sengawang, Kecamatan Teluk Keramat, ia menanggapi adanya pemotongan Rp 100 ribu yang dilakukan oleh pihak aparatur Desa, tentu hal ini sangat disayang. Karena bantuan tersebut tidak boleh ada pemotongannya. Jadi saya sebagai masyarakat kepada Pemerintah Desa, agar kedepannya jangan sampai terulang,” tegasnya.

Selain itu, Oni selaku mewakili yang penerima bantuan tersebut, saya pribadi kalau dikembalikan uang pemotongan tersebut, jadi masyarakat perlu tau juga dan kawan-kawan, bagaimana pendapat kawan soalnya sudah sering kejadian seperti ini.

Lanjutnya, kalau dibiarkan nanti kemudian hari dilakukan lagi mengambil kebijakan, tanpa setahu warga dan yang bersangkutan kan begitu. Sampai ada pengancaman waktu mengambilnya, waktu pemotongan 100 ribu kan diancam.

” Siapa yang tidak mau memberi kita hilangkan nama itu dihapus “jangan dikasih lagi” sampai ada kata kata itu. Nyaman benar, Mudah benar, mereka mulangkan omongan seperti itu,”

Terkait untuk ditindak lanjuti, tentu saya tidak bisa memutuskan, tentu menanyakan dulu sama kawan-kawan, kalau udah ramai ngikut kita, kita lanjut, tutup Oni.

( TIM )

Pos terkait